Mahendra dan Pohon Temaram
Sudah
sejak fajar di hari Minggu ini, Mahendra tidak berhenti menangis. Dia hanya
meluapkan tangisan sambil bersandar pada sebuah Pohon Temaram yang besar di puncak
bukit kota, tempatnya tinggal. Saat itu, Waktu begitu terasa sangat lambat di
benak Mahendra. Seolah kabar yang dia terima malam kemarin tidak pernah lepas
dan menjerat tubuhnya bersama aliran waktu yang malas pergi.
Ayah
Ibunya dikabarkan meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas pada malam Sabtu
kemarin. Maklum, ayah dan ibu Mahendra adalah pekerja keras dan terbiasa pulang
saat matahari sudah bersembunyi di balik cakrawala. Mereka bilang, ayah dan
ibunya adalah pejabat kota dan pemerhati lingkungan. Suatu pekerjaan yang ideal
di tengah masyarakat perkotaan nan sibuk dan acuh terhadap keadaan alam
sekitarnya.
Padahal,
hari ini adalah hari ulang tahun Mahendra ke dua belas. Mereka berjanji akan
mengajak Mahendra untuk melihat cahaya kota di atas bukit di bawah pohon Temaram,
satu-satunya pohon besar yang ada di perkotaan metropolitan itu. Saat ini,
Pohon itu hanya berdiri sendiri di tengah bangunan-bangunan pencakar yang
mewah, namun mematikan penghuninya.
Hari
itu semakin gelap menuju senja, berkasan cahaya emas menembus tajam tajuk
rindang di kanopi pohon. Cahaya keemasan membanjiri wajah Mahendra. Mahendra
enggan untuk pulang. Dia masih percaya untuk setia menunggu di bawah Pohon Temaram
itu. Ayah dan ibunya akan datang memberinya ucapan selamat ulang tahun dan
mereka bersama-sama menikmati cahaya kelap-kelip perkotaan bersama-sama.
Mahendra
hampir putus asa, air matanya semakin habis karena terus mengalir. Ia merasa sangat terpuruk, terbayang sepinya
dunia tanpa ayah dan ibu. Siapa yang akan memberinya hadiah saat ulang tahunnya
nanti? Siapa yang akan menyemangatinya saat ujian kelulusan sekolah?
Lambat
laun, Mahendra sadar ayah dan ibunya
sudah meninggalkan dirinya selamanya. Sewaktu ia memejamkan mata karena sendu.
Dia mendengar suara menggema di dalam ruang kosong benaknya.
“Jangan bersedih, pemuda kecil,” kata
suara itu.
Mahendra
kaget bukan main, dia melirik ke kanan, dan kiri secara bergantian. Namun yang
dilihatnya hanyalah kobaran rumput pendek yang menari tertuip udara, dan bising
perkotaan di kejauhan mata. Di belakangnya hanya berdiri Pohon Temaram raksasa
yang hening.
“Kamu siapa?” balas Mahendra dalam
pikirannya.
“Aku adalah harapan dari kota ini, Akulah Pohon Temaram,” kata suara itu.
“Apakah kamu hantu penguni pohon raksasa ini?”
tanya Mahendra curiga.
“Bukan. Aku adalah roh pohon itu sendiri, dan
kamu adalah orang ketiga dewasa ini yang kuajak berbicara, wahai pemuda kecil,”
kata suara itu lembut. “Siapa namamu? Kenapa
kamu terus menangis sejak tadi?”
“Terima kasih tuan Temaram, aku Mahendra,” kata Mahendra sayu. “Mulai saat ini aku sendirian, aku kehilangan
ayah dan ibuku.”
“Aku turut berduka,” balas Temaram sendu.
“Seharusnya kami merayakan ulang tahunku,
hari ini di sini. Ayah dan ibu bilang, tempat ini tempat terbaik yang ada di
kota ini. Kami akan melihat cahaya
kota sebagai lilin ulang tahunku dan tiupan sejuk bukit sebagai hembusan
lilinnya,” kata Mahendra menunduk. “Tapi
sekarang aku sendirian dan tidak punya siapa-siapa lagi yang berarti untukku.”
“Pemuda kecil, ceritamu mengingatkan akan
masa laluku. Sejak dahulu, aku kehilangan teman-temanku satu per satu. Mereka
di musnahkan sedikit demi sedikit oleh manusia atas nama perubahan, sekarang semua temanku terkubur di bawah
benda mati yang menjulang menembus awan. Manusia menyebutnya gedung,” sejenak suara Temaram berhenti.
Kemudian dia melanjutan, “Jika kau merasa
saat ini sendirian, maka kini kau memiliki teman yang sehati. Kita sama dan
kurasa kita bisa saling mengerti.”
“Terima kasih tuan Temaram,” balas Mahendra,
rautnya masih muram.
“Aku tidak bisa berbuat banyak, tapi aku bisa
mencoba menghiburmu,” kata Temaram sayup.
“Bagaimana caranya?” tanya Mahendra
penasaran.
“Pejamkan matamu sejenak,” bisik Temaram,
suaranya menggema dalam pikiran Mahendra.
Sewaktu
Mahendra menutup kelopak matanya perlahan, suasana menjadi sunyi. Sesaat dia
merasa takut terjadi apa-apa, tapi tidak lama, Mahendra bisa merasakan tiupan
energi sejuk menyelimuti dirinya yang hampa. Sayup-sayup angin bertiup
melingkar dari ujung rambut coklatnya yang tipis. Saat itu, bisikan Temaram
kembali muncul, “buka matamu perlahan,
Mahendra.”
Daun-daun
berjatuhan berirama dari puncak tajuk bundar Pohon Temaram, menari dan mengayun
mengikuti irama angin yang bertiup. Hampir ratusan bahkan ribuan dedaun
berwarna hijau kekuningan berjatuhan membentuk pola yang khas, seolah sudah di
atur oleh sang pohon.
Sinar
cahaya bulan membanjiri dedaunan yang mengayun seperti perak cair yang
mengkilap di atas permukaan zambrud. Daun itu seakan tidak pernah habis dan
memberi keindahan yang memenuhi penglihatan Mahendra.
“Masih belum,” kata Temaram.
Kemudian
suara menggeru terdengar dari dahan-dahan besar yang mencuat di batang utama
raksasa Temaram. Pohon itu seperti menggetar, angin berhembus melalui sela
dahan dan tangkai pohon Temaram. Mengibaskan dedaunan yang berjatuhan tiada
henti, mengobarkan ke semua penjuru arah.
Mahendra
melihatnya dengan takjub, dedaunan itu menghilang menuju perkotaan di bawah
sana, seperti pecahan-pecahan cermin berkilauan yang hancur. Di baliknya,
cahaya warna-warni perkotaan timbul, berkelap-kelip memanja. Begitu malam
semakin larut, cahaya kota semakin jelas dan tampak seperti bintik sinar kecil
yang bermain.
Senyum
lebar tersirat di wajah Mahendra, senyuman itu memperlihatkan gigi putih rapat
Mahendra. Dia kemudian memeluk pohon Temaram dan mengucapkan ucapan terima
kasih yang tulus pada Temaram.
Keesokan
harinya, Mahendra tidak pernah berhenti mengunjungi pohon Temaram itu. Meskipun
harus mendaki bukit setiap harinya. Mahendra selalu ingin bertemu sang Temaram,
untuk bercerita apapun tentang kegiatannya hari itu.
Hari
demi hari, minggu demi minggu hingga bulan demi bulan. Mahendra bercerita
banyak sekali. Mulai dari nilai sekolahnya yang membaik, cita-citanya menjadi
pemerhati lingkungan, dan hal mengasikkan lainnya. Temaram selalu meresapi
setiap kata-kata yang diucapkan Mahendra. Seakan kata-kata itu adalah tinta
yang tertulis di sebuah kertas dari kayu miliknya.
Satu
hal yang membuat Temaram sedih ketika Mahendra bercerita tentang dirinya yang
kesepian karena sulit mendapat teman. Mahendra merasa dia tidak pandai bersosialisasi
dengan temannya dan cenderung menyendiri. Di kala itu, Temaram menghiburnya
dengan derakan tajuknya yang membuat burung bersiul. Mahendra selalu tersenyum
bahagia.
Tiap
hari kemajuan pembangunan perkotaan semakin pesat, para penghuninya semakin
sibuk dengan urusan masing-masing. Keindahan kota tempat Mahendra tinggal tidak
pernah bisa mengobati rasa sepi Mahendra. Keelokan arsitektur bangunan tidak
seindah bagaimana rutinitas manusia yang mati di dalamnya.
Suatu
ketika, Mahendra jatuh sakit mengharuskannya beristirahat di rumah selama
hampir seminggu lebih, dia sangat merindukan Temaram. Merindukan sepoi angin
segar meniup wajahnya melalui celah-celah batang Temaram, rindu pada tetesan
daun yang gugur di tajuk Temaram dan rindu derakan kanopi Temaram yang membuat
burung-burung berkicau.
Genap
hampir satu tahun kedekatannya dengan Temaram, besok adalah hari ulang tahun Mahendra.
Mahendra beranjak sembuh. Mahendra bergegas menuju perbukitan tempat Temaram
bernaung. Dia mempercepat langkah, dan melalui sela gang perkotaan untuk sampai
di sisi perbukitan.
Begitu
Mahendra sampai, orang-orang berkumpul dan saling berbicara satu sama lain.
Orang-orang itu menggunakan helm yang khas. Berwarna putih, kuning dan memakai
sebuah rompi berjaring. Saat itu Mahendra masih belum mengerti mengapa tempat
itu dipenuhi orang. Beragam kendaraan berat bercakar dan sebuah tiang besi
tinggi menjulang lengkap dengan kerangka-kerangkanya. Sisi perbukitan itu di
pagari, dan dipasangi sebuah tanda-tanda yang asing bagi Mahendra. Hanya
beberapa tanda saja yang Mahendra mengerti. Salah satu tanda itu bertuliskan
“Dilarang Masuk Area Proyek Pembangunan”, lengkap dengan warna merah yang
mencolok.
Mahendra
penasaran, ia bertanya pada seorang pria yang terlihat senggang dan berhelm
putih. pria itu nampak kaget melihat kedatangan Mahendra dan menaruh tumpukan
kertas-kertas tebal di genggamannya.
“Nak,
mulai saat ini tempat ini dilarang dikunjungi ya,” kata pria dengan suara
serak. Berbagai suara muncul dari handytalky
yang tergantung di sabuknya.
“Mengapa?”
kata Mahendra penasaran.
“Mulai
besok, tempat ini akan di ratakan tanahnya dengan alat berat, termasuk pohon
besar di bukitnya akan di tebang. Kebetulan Walikota yang baru sudah menyetujui
pembangunan gedung perkantoran di daerah ini. Harapannya gedung itu akan
memberikan perekonomian yang lebih baik,” kata Pria itu mencoba menjelaskan
dengan mudah tetapi kesulitan.
Raut
bingung terpancar di wajah Mahendra. Setelah itu, berbagai kalimat-kalimat
dengan kosakata rumit keluar dari pria itu membalas sebuah kotak talkynya yang di tempelkan ke arah bibir
yang mengkerut. Tidak ada satupun kata yang Mahendra mengerti. Mahendra hanya
tertunduk dan merenung. Beberapa hal yang dia mengerti saat itu adalah dia akan
kehilangan sabahatnya, sang Pohon Temaram di hari ulang tahun besok.
Mahendra
lantas meninggalkan pria itu yang masih sibuk berbicara dengan handytalkynya. Melihat kepergian
Mahendra, pria itu tampak kebingungan sambil menggaruk-garuk dagunya. Di Balik
pagar kawat besi, Mahendra menatap sosok Temaram yang terlihat sendiri di bawah kepulan
awan-awan yang menggantung.
Air
mata menetes melalui celah hidungnya yang kecil. Dia ingin menemui Temaram dan
tidak ingin Temaram pergi meninggalkannya. Mahendra lalu mengitari pagar kawat,
menjauhi kerumunan pekerja di dekatnya.
Hari
semakin senja, Mahendra melompat dari pagar kayu yang mengurung bukit itu.
Pagar itu sangat tinggi untuk seorang anak seusianya. Kakinya tidak siap
menapak dasar dengan ketinggian itu. Mahendra meraung kesakitan, Dia sadar,
lompatan itu mematahkan kaki kananya. Walaupun
kesakitan Mahendra memaksa dirinya mendaki bukit itu, untuk menemui Temaram.
Begitu
tiba di hadapan Temaram, Mahendra memanggil namanya dalam benaknya, “Temaram! Temaram!”
Pohon
itu bergetar kecil, seperti kembali hidup. Memberikan derak berirama pada
alang-alang di dasarnya.
“Selamat datang kembali Mahendra kecil,”
katanya lembut. “Kenapa kakimu terluka? Aku bisa merasakannya dari dirimu.”
Mahendra
menangis, dia memeluk batang raksasa Temaram. Mencoba melupakan sakit di
kakinya dan memeluk erat Temaram.
“Mereka bilang, kamu akan di tebang untuk
pembangunan,” kata Mahendra berusaha menjelaskan sambil terisak. Mahendra
sudah berusaha keras menjelaskan penjelasan rumit melalui pikirannya yang
polos.
“Ah, aku mengerti,” kata Temaram, sejenak
suasana hening. “sudah tiba saatnya
mereka melupakan peranku.”
“Ayah dan Ibumu lah
yang dahulu menjaga kehadiranku di kota ini, eksistensiku dan peranku untuk
menyeimbangkan kerumitan peradaban manusia di kota ini. Dia yang menyayangiku
seperti dia menyayangimu. Melindungiku dengan tanggung jawabnya sebagai
pimpinan kota dan menghalangi berbagai usaha kerakusan hasrat manusia.”
“Jadi kamu kenal
ayah dan ibu?” tanya
Mahendra masih terisak, pelukannya semakin erat.
“Tentu, kala itu, ayah dan ibumu bertemu
sewaktu tempat ini masih dipenuhi rasku. mereka adalah dua orang terpelajar
yang sangat mencintai lingkungan. Cinta mempertemukan mereka dikala mereka
menanam sebuah pohon kecil, di waktu mahari akan tenggelam di ufuk barat,
diwaktu Temaram tiba. Ayah dan Ibumu
yang menamaiku Temaram.”
Waktu
enggan bersahabat, menelan semua detik dan menit yang terlewati. Hari semakin
dekat untuk berganti, pertanda kepergian Temaram semakin dekat. Hanya cahaya
perak cair dari bulan yang menyorot mereka berdua. Meski langit kian menggelap,
keberadaan Temaram di sisinya menerangkan sanubarinya.
“Kamu harus meninggalkanku dan merelakanku,
Mahendra,” kata Temaram, berpura-pura bijak.
Mahendra
terdiam membisu, sudah berjam-jam dia memeluk sahabatnya. “Aku tidak akan pergi.”
“Ketika fajar tiba, mereka akan meratakanku.
Melupakan keberadaanku dan melapisi sisa tubuhku dengan kekokohan sang pencakar
langit. Apabila kau tidak meninggalkanku. Aku akan pergi dengan perasaan
bersalah,” kata Temaram, suaranya parau dan sedih.
“Dan ketika kamu pergi, aku akan semakin
sendiri dan sendiri,” jawab Mahendra putus asa.
Berkali-kali
Temaram membujuk Mahendra untuk meninggalkan bukit itu, tetapi Mahendra enggan
menurut dan setia berada di sisi Temaram. Temaram sudah kehabisan kata-kata
bujukan, dia diam sejenak dan berderak.
“Maafkan aku Mahendra,” kata Temaram.
“Ini keputusanku, Temaram,” Balas lembut
Mahendra.
“Aku punya hadiah
terakhir untukmu Mahendra,” ucap
Temaram, Mahenda tersenyum. Meskipun
kakinya semakin lebam dan terasa panas, Mahendra berusaha keras menahannya. “Pejamkan matamu.”
Kali
ini Mahendra memejamkan matanya tanpa ragu, dia menutup matanya dengan cepat,
menanti kejutan dari sang Temaram.
Suara deru terdengar dari bawah
tanah, deru yang lambat dan sangat terasa. Mahenda merasakan sesuatu melilit
tubuhnya dengan lembut. Sesaat dia hampir mengintip, tetapi Temaram
mengingatkannya untuk tetap terpejam. Mahendra merasa terangkat dan melayang.
Lilitan itu seperti menuntum tubuhnya memijak pada kekosongan.
Gerakan itu terasa halus, hingga
Mahendra merasa angin dingin meniup di wajahnya. Lilitan itu terlepas
berurutan, sewaktu Mahenda bersandar pada sesuatu yang tidak dia ketahui. Hanya
saja, semua terasa sangat menyejukkan dan menyenangkan. Temaram kembali
terdiam, membuat Mahendra penasaran. Mahendra pun memberanikan untuk bertanya,
“Apa aku sudah bisa membuka mata?”
“Bisa,”
balas Temaram pelan.
Mahendra membuka matanya, seperti
sebuah tirai panggung yang terbuka secara perlahan, menanti apa yang akan di
pertunjukan seorang maestro pada penontonnya yang menanti.
Betapa takjubnya Mahenda, melihat
cahaya-cahaya kecil berterbangan, melayang-layang dan berpijar layaknya bintang
kecil yang menyapa. Cahaya itu keluar melalui sela-sela kerut kulit Temaram.
Melayang berputar secara lembut membanjiri kanopi Temaram.
Mahendra sadar dirinya berada di
puncak pohon Temaram, bersandar pada dedaunan muda yang lembut dan hangat
karena keinginan Temaram. Di sisi-sisinya cabang-cabang mencuat seperti tanduk
rusa jantan yang megah. Di penuhi cahaya kecil bagai balon transparan yang di
isi lumen cair keemasan.
“Selamat
ulang tahun, Mahendra,” Ujar halus Temaram. Mahendra menangis, ia berusaha mengusap
kedua matanya yang menolak untuk berhenti menangis. Meskipun Tangisan itu
bukanlah kesedihan, tetapi tangisan bahagia.
Pijaran itu semakin penuh dan
terang. Seakan dia berada di tengah galaksi yang megah. Pada akhirnya, Mahendra
tersenyum dan tertawa bersama Temaram. Mahendra enggan menanyakan bagaimana
sebuah pohon bisa mengeluarkan sebuah cahaya. Saat itu, Mahendra hanya tahu
bahwa itu adalah hadiah terindah yang pernah dia rasakan dari sebuah sahabat
yang berusia paling tua di kotanya.
Mereka berdua bercakap-cakap hingga
berjam-jam. Melupakan tentang sesuatu yang akan terjadi besok hari. Begitu
Mahendra merasa lelah, dia tertidur nyenyak di puncak kanopi rindang Temaram.
Dengan lembut Temaram menyelimutinya dengan dedaunan dan ranting yang kokoh.
Membungkus rapat pemuda kecil itu, membuatnya menyatu dengan tubuhnya. Lalu Temaram
pun terpejam bersama seorang sahabat kecil, selamanya.
Komentar
Posting Komentar