Postingan

Mahendra dan Pohon Temaram

Sudah sejak fajar di hari Minggu ini, Mahendra tidak berhenti menangis. Dia hanya meluapkan tangisan sambil bersandar pada sebuah Pohon Temaram yang besar di puncak bukit kota, tempatnya tinggal. Saat itu, Waktu begitu terasa sangat lambat di benak Mahendra. Seolah kabar yang dia terima malam kemarin tidak pernah lepas dan menjerat tubuhnya bersama aliran waktu yang malas pergi. Ayah Ibunya dikabarkan meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas pada malam Sabtu kemarin. Maklum, ayah dan ibu Mahendra adalah pekerja keras dan terbiasa pulang saat matahari sudah bersembunyi di balik cakrawala. Mereka bilang, ayah dan ibunya adalah pejabat kota dan pemerhati lingkungan. Suatu pekerjaan yang ideal di tengah masyarakat perkotaan nan sibuk dan acuh terhadap keadaan alam sekitarnya. Padahal, hari ini adalah hari ulang tahun Mahendra ke dua belas. Mereka berjanji akan mengajak Mahendra untuk melihat cahaya kota di atas bukit di bawah pohon Temaram, satu-satunya pohon besar yang ada di p...